Senin, 25 Februari 2013

Manualtherapy pada Cervical Spine



Manualtherapy pada Cervical Spine
1.             PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keluhan pada leher dalam praktek fisioterapi bukan merupakan kasus yang tidak asing, karena merupakan kasus musculoskeletal terbanyak kedua setelah kasus Low Back Pain.
Neck pain merupakan keluhan yang sulit ditangani secara tuntas karena susunan anatomis dan fungsi yang sangat komplek, serta mempunyai resiko tinggi mengingat besar pengaruhnya terhadap gerak dan fungsi dasar tubuh, mempengaruhi system saraf  kuadran atas, serta berpengaruh terhadap pembuluh darah ke otak.
Tentang Manualterapi Cervical
 Traksi leherhampir semua fisioterapis pernah melakukannya, latihan gerak pasif juga semua melakukan apalagi latihan gerak leher aktif, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda.
Manualterapis melaksanakan pengelolaan secara ilmiah dengan sistematika tersendiri, yang berpedoman pada neuromusculosceletal mechanism.
Dalam melaksanakan proses manualterapi harus didasari atas pengetahuan anatomis, hitologis, topografis, kinesiologis dan patologi marphologis ataupun patologi fungsional disamping pengetahuan dan ketrampilan pemeriksaan dan intervensinya.
Assessment untuk menetapkan diagnosis
Pemeriksaan fisio-manualterapi merupakan metoda deduktif-induktif untuk menetapkan kelainan, gangguan atau penyakit gerak dan fungsi dan menetapkan problemnya yang dituangkan dalam diagnosis dan prognosis. Untuk menjaring informasi secara lengkap dengan cara yang efektif dan efisien diperlukan sistematika dan metoda pemeriksaan yang baku dan teruji, sebagai berikut:
Anamnesis         kesimpulan sementara
Inspeksi             kesimpulan sementara pemeriksaan fungsi gerak dasar t.a
Quick test          kesimpulan sementara
Pasive test          kesimpulan sementara
Isometricressistedtest                kesimpulan sementara
Pemeriksaan khusus                     kesimpulan sementara
Pemeriksaan tambahan              kesimpulan akhir        sebagai diagnosis
Intervension
Selanjutnya dapat ditetapkan goal atau targetnya serta program intervensi fisio-manual terapi dengan menetapkan metoda dan teknik serta dosisnya.
Pada manual terapi pendekatan intervensi dengan berjenjang, dari local ke regional, segmental dan total.

2.             Cervical Spine dari Sudut Pandang Manualterapi
2.1.       Spine
Tulang belakang tersusun secara rapid an occyput, 7 tulang cervical, 12 thoracal, 5 ruas yang menyatu sacral, 3-5 ruas yang menyatu sebagai coccyx yang dihubungkan oleh discus dan facets, dimana dalam bidang frontal lurus tetapi dalam bidang sagital terdapat kurvatur, yaitu: lordose pada cervical dan lumbar, serta kiphose pada thoracal dan sacrum.
Diperkuat oleh insert struktur bagian depan korpus sebagai anterior longitudinal ligament, belakang corpus sebagai posteriorlongitudinal ligament, sebelahdalam canalis spinalis sebagai plaval ligament antar spinosusprocess sebagai interspinosus ligament dan supra spinosus ligament serta antar tranvese process sebagai intertranverariusligamen disamping antara costa iliac ligaments. Diperkuat dan digerakkan oleh otot-otot intrinsic dan ekstrinsik yang sangat komplek sesuai dengan lokasinya.
Demikian pula system saraf dan pembuluh darah yang memeliharanya cukup kompleks pula.
2.2    Cervical spine
     Bahwa cervical spine merupakan kolumna vertebralis yang paling kompleks, dimana secara anatomis dan kinesiologis memiliki cirri spesifik dan berkaitan dengan temporomandibular joint, shoulder complex, upper thoracal joint dan upper costae.
Sikap dan gerak yang terjadi pada cervical spine sendiri juga rumit, dimana sikap/ posisi leher protusion atau deviation atau rotation akan mempengaruhi gerak dan fungsi leher secara keseluruhan dan akan menimbulkan patologi tertentu yang harus dikaji dan dipertimbangkan, baik dalam assessmen maupun intervensinya. Demikian pula gerak leher yang spesifik secara segmental maupun secara regional sangat besar kontribusinya dalam spesifikasi patologi, assessmenmaupun intervensi. Cervical spine memiliki mobilitas yang besar dan spesifik, sehingga menuntut konsekuensi stabilitas yang besar dan spesifik yang dibentuk secara pasif dan aktif.
3.             Assessmen
Assessmen merupakan tahp pertama dalam pengobatan, untuk menetapkan permasalahan yang utama dan penyerta.
Anamnesis khusus haruslah mengarah, misalnya keluhan nyeri jenis tertentu pada segmentasi tertentu, oleh provokasi tertentu dan peringanan tertentu pula akan mengarahkan diagnosis secara tepat.
3.1     Pemeriksaan fungsi gerak dasar
·         Quick test
     Merupakan tes seleksi untuk mendeteksi adanya patologi pada suatu region secara cepat. Tes dilakukan dengan aktif, kemudian pasif pada akhir gerakan. Pada keluhan regio cervical diperlukan tes cepat buka tutup mulut untuk temporomandibular joint, abduksi elevasi bahu untuk shoulder complex, fleksi ekstensi dan tiga dimensi untuk cervical. Diperhatikan alur gerak, irama gerak, nyeri, bunyi, dan ROM, serta end feel.    
3.2     Pemeriksaan khusus
·         Taction and compression test
     Merupakan provokasi dan menghilangkan tekanan pada jaringan penerima berat badan, seperti disc, facets, dan uncovertebral joint. Tes ini dapat dilakukan secara bilateral maupun unilateral.
·         Palpation
     Dengan palpasi akan dapat menetapkan titik atau lokasi patologi pada tendon, otot, ligament, tulang, kulit dan menentukan kelainan posisi tulang, sendi dll.
·         Segmental test for C0-C1
Pada posisi leher full flexion cervical difiksasi dengan tangan kemudian dilakukan gerak pasif fleksi-ekstensi kepala.
·         Segmental test for C1-C2
Pada posisi leher fleksi dan kepala ekstensi, sambil dilakukan fiksasi pada tranverse process kemudian dilakukan gerakan kepala rotasi terhadap leher.
·         Segmental testfor C2-C3-4-5-6-7
Padasegmen ini tes dilakukan dengan cara memfiksasi tulang leher dengan satu tangan, sementara tangan satunya, melakukan gerakan vertebra cervical atasnya beserta kepala.
·         First costal movement test
Dengan posisi leher rotasi kesatu sisi, maka costa akan rotasi pada sisiyang sama. Pada posisi inidilakukan tes tekanan pada costa 1 kearahcaudal.
·         Cervicothoracal junction
Dengan memutar leher seperti di atas akan diikuti rotasi vertebra thoracalis 1-2-3 dan 4 kesisi yang sama.Gerakan ini dapat diraba dengan jari yang diletakkan pada spinosus process.
3.3.    Pemeriksaan tambahan
·         X’ray
     Informasi yang sering diperoleh pada x’ray antara lain spodylosis def. dengan osteophyte, penyempitan foramen intervertebralis, flat curve, calcification dari lig. Nuchae, dsb. Hal ini dapat menguatkan dugaan diagnosis, tetapi tidak dapat bediri sendiri.
·         Laboratory
     Demikian pula pada pemeriksaan laboratorium seperti uric acid, CRP, Elysa test dsb.


4.             PENUTUP
Tentu yang dapat saya sampaikan sangatlah sedikit, namun besar harapan tulisan ini dapat bermanfaat bagi fisioterapis maupun pembaca lainnya.
5.             DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Ikatan Fisioterapi Indonesia, edisi Desember 2001, Vol. 3 No. 3 Januari2002, IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA, Jakarta Selatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar